indahnesia.com - Discover Indonesia Online

    
You are currently in > Forum > General chat > View topic

17-01-2015 18:16 · [news] Three more bodies of AirAsia victims to Surabaya hospital  (1 reaction)
17-01-2015 01:23 · [news] Fuel prices lowered, again  (2 reactions)
17-01-2015 00:14 · [news] President dismisses Sutarman as national police chief  (0 reactions)
16-01-2015 12:44 · [news] Alleged terrorists shot dead three villagers in Poso  (3 reactions)
16-01-2015 02:15 · [news] Indonesia to execute six drug convicts  (0 reactions)

searching
User
spacer line
 

I want to discuss this topic with fellow Indonesians and perhaps also with all the people concerned about the history of Indonesia.

This comes to my mind due to some reason:
1. The history NEVER mentioned WHY suddenly Buddhism and Hinduism, after existing for so many centuries, suddenly was changed by Islam.
2. The explanation of how Islam was spread in 'Nusantara' was sugarcoated by the assertions that Islam was spread through peaceful manners (marriage, etc) but failed to mention some traditional and ancient poems in Sundanese and Javanese, mentioning the UNPEACEFUL MANNER OF islamic spread.
3. There's a gap of history in MANY regiones (seems like a missing records) before suddenly the region changed into Islamic region.

Thanks.


Find out the real face of Islam, read www. faithfreedom.org

Jesses
User
User icon of Jesses
spacer line
 

I'm not an expert, but with regards to your first question:

Buddhism and Hindiusm - and many animistic worldviews - were (and are) not entirely replaced by Islam. Islam was very much incorporated into pre-existing beliefs. The fact that Islam came to be the 'official' religion, was in first instance probably because of political and economical opportunism at the royal courts of old. This explains why the appearance of Islam seems to have occured so suddenly.

You ever heard about the term abangan ?

I would like to say some more, but I have to go to work. I hope this topic will not end up in a tirade about the 'aggressive nature' of Islam again. We will hear about this soon enough Emoticon: Cooool






sidia
User
User icon of sidia
spacer line
 

Searching , can you tell us ?
abt pt 1. suddenly ?
pt2. which one ?
pt3. which regions ?

Jesses ,
can you explain us abt the political / economical opportnism and is it true that the the hindu people "suddenly"becomes moslim .

If you are Dutch , you can use the dutch situation as an example .

terima kasih.


Bisa dicek mas . http://omsid.multiply.com/

Jesses
User
User icon of Jesses
spacer line
 

Sidia,

I didn't say that the hindu people suddenly became muslim. I said it may SEEM to have been a very rapid proces...

Islam used to be a political commodity, something to negotiate about when forming alliances or coalitions. Converting to islam was quite often used as a strategic move in order to enhance political power. So, a king could become a sultan in one night, if he thought it to be benificial. And with the king, the whole court became muslim. But only in name, probably. And because historiography was always about the elite only, it seems that old historical sources discribe a proces of islamisation which seems to be very invasive and very rapid. But they hardly mention the adoption of islam among the common people... This proces took probably much longer, and it thus occured less sudden than Searching suggests.

But as i said, i'm no expert. I'm not even Indonesian... I hope someone with more authority can comment on Searchings questions... Perhaps you, Sidia?

Groet Emoticon: Party! ,

Jesse





sidia
User
User icon of sidia
spacer line
 


On 01-02-2008 19:52 Jesses wrote:
Perhaps you, Sidia?


Not quallified enough . Emoticon: Smile
Hope that our friend searching tell it to us.
Esp. regarding yr posting;
And with the king, the whole court became muslim. But only in name, probably. And because historiography was always about the elite only, it seems that old historical sources discribe a proces of islamisation which seems to be very invasive and very rapid. But they hardly mention the adoption of islam among the common people... This proces took probably much longer, and it thus occured less sudden than Searching suggests.



Bisa dicek mas . http://omsid.multiply.com/

searching
User
spacer line
 

Jesse,

'Buddhism and Hindiusm - and many animistic worldviews - were (and are) not entirely replaced by Islam. Islam was very much incorporated into pre-existing beliefs. The fact that Islam came to be the 'official' religion, was in first instance probably because of political and economical opportunism at the royal courts of old. This explains why the appearance of Islam seems to have occured so suddenly. "

Thanks for this nice start. We will enjoy the discussion between us.

Since Sidia is a sundanese, perhaps we need to read a bit about Prabu Siliwangi and Kian Santang, and the general history of Padjajaran.

Please read this part:

http://www.indonesia.faithfree(...)iewtopic.php?t=15108

The history of Padjajaran.




Find out the real face of Islam, read www. faithfreedom.org

searching
User
spacer line
 

One mistake of Prabu Siliwangi was to give the wind to Islam, which in the first start to come as something 'peaceful' but then in the end they show their real face. It happened everywhere.

Sidia, one genuine question, do you know why the candis were found covered underground?
I learned from history about the eruption, but a friend of mine told Me that they were burried so they were not destroyed by muslims.


Find out the real face of Islam, read www. faithfreedom.org

sidia
User
User icon of sidia
spacer line
 

Sorry , can some one translate it ??

Perselisihan antara Pajajaran dan Demak dimulai ketika Pajajaran mencoba mencari pertolongan dai Portugis di Malaka.
Penyebaran Islam di Nusantara dimulai di Sumatra , kalau tidak salah di Perlak , dan Samudra Pasai.
Proses Islamisasi biasanya terjadi karena perkawinan antara pedagang (penyebar) Arab , dan berlaku puluhan tahun .

Proces yang sama terjadi juga di Pulau Jawa .
Di Majapahit Islam masuknya juga secara sedikit demi sedikit , melalui perkawinan.Dan perdagangan.
Kalau tidak salah ibunya Prabu Brawijaya (ke ?) dari Majapahit adalah putri dari Champa(Viertnam-Da Nang) . Sebelum itu agama islam sudah ada di bumi Majapahit , disamping agama resmi kerajaan Majapahit (Hindu ).
2 agama berbeda (Islam Hindu) mempunyai penganut di kalangan keraton .
Ketika Raja Majapahit terrachir menjadi islam , para rakyat pun ikut menjadi islam.(sesuai dengan cerita Yesses)

Di Jawa Barat proces islamisasi juga dimulai dengan perkawinan orang keraton . Hanya terachir agak berbeda ketika Pajajaran digempur Demak-Cirebon , musuh besarnya orang Portugis.
Pajajaran baru benar menghilang ketika pasukan Banten (Islam) berhasil membawa / merampas atribut penting orang sunda.
Atribut untuk menobatkan Raja2 Sunda.
BTW , kalau tidak salah Istrinya Sultan Banten atau Sultan banten adalah keturunan Sunda juga.
Ya ,logis , orang Banten kan orang Sunda (turunan sunda )juga.

Info ini bisa dibuat sebagai dasar diskusi lanjut.
Menuruit saya , agama islam di Nusantara boleh dibilang disebarkan tidak dengan senjata saja . Dasarnya hanya perkawinan , dan politik (aliansi).

Jadi teori bahwa candi disembunyikan agar orang islam tidak menemukan agak mustahil , karena mereka sudah ada puluhan tahun di bumi majapahit .
Malah keluatga keraton pun ikut jadi islam.

Salam
OmSid.


Bisa dicek mas . http://omsid.multiply.com/

searching
User
spacer line
 

Salam Om Sid,

Well, it's better for us to discuss about Padjajaran first, how's that. Just a hint, if you want to learn about how the latest Majapahit King converted to Islam, perhaps you may read 'Serat Darmagandul'. He ran away from his muslim son, but then got tempted to convert to Islam in the end, while some of his followers refused and told to be 'moksa'.

Now let's return to the Islamic history in Indonesia. Let's start from Padjajaran.


Find out the real face of Islam, read www. faithfreedom.org

searching
User
spacer line
 

http://pasundan.homestead.com/(...)rah/sejarahframe.htm
JAMAN PAJAJARAN (1482 - 1579)

RAJA RAJA PAJAJARAN

1. Sri Baduga Maharaja
Jaman Pajajaran diawali oleh pemerintahan Sri Baduga Maharaja (Ratu Jayadewata) yang memerintah selama 39 thn (1482 - 1521). Pada masa inilah Pakuan mencapai puncak perkembangannya.

Di Jawa Barat Sri Baduga ini lebih dikenal dengan nama PRABU SILIWANGI. Nama Siliwangi sudah tercatat dalam kropak 630 sebagai lakon pantun. Naskah itu ditulis tahun 1518 ketika Sri Baduga masih hidup. Lakon Prabu Siliwangi dalam berbagai versinya berintikan kisah tokoh ini menjadi raja di Pakuan. Peristiwa itu dari segi sejarah berarti saat Sri Baduga mempunyai kekuasaan yang sama besarnya dengan Wastu Kancana (kakeknya) alias Prabu Wangi (menurut pandangan para pujangga Sunda).

...

Untuk mengetahui lebih lanjut kejadian di masa pemerintahan Sri Baduga, marilah kita telusuri sumber sejarah sebagai berikut:

a. Cerita Parahiyangan

Dalam sumber sejarah ini, pemerintahan Sri Baduga dilukiskan demikian:

"Purbatisi purbajati, mana mo kadatangan ku musuh ganal musuh alit. Suka kreta tang lor kidul kulon wetan kena kreta rasa. Tan kreta ja lakibi dina urang reya, ja loba di sanghiyang siksa"

(Ajaran dari leluhur dijunjung tinggi sehingga tidak akan kedatangan musuh, baik berupa laskar maupun penyakit batin. Senang sejahtera di utara, barat dan timur. Yang tidak merasa sejahtera hanyalah rumah tangga orang banyak yang serakah akan ajaran agama)

Dari naskah ini dapat diketahui, bahwa pada saat itu banyak rakyat Pajajaran yang beralih agama (Islam) dengan meninggalkan agama lama. Mereka disebut "loba" (serakah) karena merasa tidak puas dengan agama yang ada, lalu mencari yang baru.



Find out the real face of Islam, read www. faithfreedom.org

searching
User
spacer line
 

b. Pustaka Nagara Kretabhumi parwa I serga 2

Naskah ini menceritakan, bahwa pada tanggal 12 bagian terang bulan Caitra tahun 1404 Saka, penguasa CIREBON, Syarif Hidayat menghentikan pengiriman upeti yang seharusnya di bawa setiap tahun ke Pakuan Pajajaran. [Syarif Hidayat masih cucu Sri Baduga dari permaisuri, Lara Santang.

Ia dijadikan raja oleh pamannya (Pangeran Cakrabuana), yg ternyata putera Sri Baduga (!) dan menjadi raja merdeka di Pajajaran di Bumi Sunda (Jawa Barat)]

Ketika itu Sri Baduga baru saja menempati istana Sang Bhima (sebelumnya di Surawisesa). Kemudian diberitakan, bahwa pasukan Angkatan Laut kerajaan Islam DEMAK yang kuat berada di Pelabuhan Cirebon untuk menjada kemungkinan datangnya serangan Pajajaran.

Tumenggung Jagabaya beserta 60 anggota pasukannya yang dikirimkan dari Pakuan ke Cirebon, tidak mengetahui kehadiran pasukan Demak di sana. Jagabaya tak berdaya menghadapi pasukan gabungan Cirebon-Demak yang jumlahnya sangat besar. Akhirnya Jagabaya menghamba dan masuk Islam.

[Komentar : Ini berarti, bahwa tanpa sepengetahuan Sri Baduga, puteranya (Cakrabuana) & cucunya (Syarif Hidayat) dari Cirebon bersekongkol dgn DEMAK menentang kerajaannya. Jadi : Pajajaran vs Cirebon + Demak, ayah vs putera & cucu + Demak.

Utk lebih jelasnya ttg kerajaan Demak, lihat asal usulnya di SERAT DARMOGHANDUL : Proses Islamisasi Nusantara Sebenarnya



Find out the real face of Islam, read www. faithfreedom.org

searching
User
spacer line
 

Peristiwa itu membangkitkan kemarahan Sri Baduga. Pasukan besar segera disiapkan untuk menyerang Cirebon. Akan tetapi pengiriman pasukan itu dapat dicegah oleh PUROHITA (pendeta tertinggi) keraton KI PURWA GALIH. [Cirebon adalah daerah warisan Cakrabuana (Walangsungsang) dari mertuanya (Ki Danusela) dan daerah sekitarnya diwarisi dari kakeknya Ki Gedeng Tapa (Ayah Subanglarang).

Cakrabuana sendiri dinobatkan oleh Sri Baduga (sebelum menjadi Susuhunan) sebagai penguasa Cirebon dengan gelar Sri Mangana. Karena Syarif Hidayat dinobatkan oleh Cakrabuana dan juga masih cucu Sri Baduga, maka alasan pembatalan penyerangan itu bisa diterima oleh penguasa Pajajaran]

Demikianlah situasi yang dihadapi Sri Baduga pada awal masa pemerintahannya. Dapat dimaklumi kenapa ia mencurahkan perhatian kepada pembinaan agama, pembuatan parit pertahanan, memperkuat angkatan perang, membuat jalan dan menyusun PAGELARAN (formasi tempur).

[Pajajaran adalah negara yang kuat di darat, tetapi lemah di laut. Menurut sumber Portugis, di seluruh kerajaan, Pajajaran memiliki kira-kira 100.000 prajurit. Raja sendiri memiliki pasukan gajah sebanyak 40 ekor. Di laut, Pajajaran hanya memiliki 6 buah JUNG (perahu layar gaya Cina) dari 150 ton dan beberapa LANKARAS (?) untuk kepentingan perdagangan antar-pulaunya (saat itu perdagangan kuda jenis Pariaman mencapai 4000 ekor/tahun)]

Keadaan makin tegang ketika hubungan Demak-Cirebon makin dikukuhkan dengan perkawinan putera-puteri dari kedua belah pihak. Ada 4 pasangan yang dijodohkan, yaitu

1. Pangeran Hasanudin dengan Ratu Ayu Kirana (Purnamasidi)
2. Ratu Ayu dengan Pangeran Sabrang Lor (Sultan Demak II?)
3. Pangeran Jayakelana dengan Ratu Pembayun
4. Pangeran Bratakelana dengan Ratu Ayu Wulan (Ratu Nyawa)

Persekutuan Cirebon-Demak inilah yang sangat mencemaskan Sri Baduga di Pakuan. Tahun 1512, ia mengutus putera mahkota Surawisesa menghubungi Panglima Portugis ALFONSO d'ALBUQUERQUE di Malaka (ketika itu baru saja merebut Pelabuhan Pasai). Sebaliknya upaya Pajajaran ini telah pula meresahkan pihak Demak.

Pangeran Cakrabuana dan Susuhunan Jati (Syarif Hidayat) tetap menghormati Sri Baduga karena masing-masing sebagai ayah dan kakek. Oleh karena itu permusuhan antara Pajajaran dengan Cirebon tidak berkembang ke arah ketegangan yang melumpuhkan SEKTOR-SEKTOR PEMERINTAHAN. Paling tidak : BELUM utk sementara ini. (Baca terus !)

Sri Baduga hanya tidak senang hubungan Cirebon-Demak yang terlalu akrab, bukan terhadap Kerajaan Cirebon. Terhadap Islam, ia sendiri tidak membencinya karena salah seorang permaisurinya (Subanglarang) adalah muslimah dan ketiga anaknya (Walangsungsang alias Cakrabuana, Lara Santang dan Raja Sangara) diizinkan sejak kecil mengikuti agama ibunya (Islam).

Karena permusuhan tidak (belum) berlanjut ke arah pertumpahan darah, maka masing-masing pihak dapat mengembangkan keadaan dalam negerinya. Demikianlah pemerintahan Sri Baduga dilukiskan sebagai jaman kesejahteraan (Carita Parahiyangan).

Tome Pires ikut mencatat kemajuan jaman Sri Baduga dengan komentar "The Kingdom of Sunda is justly governed; they are true men" (Kerajaan Sunda diperintah dengan adil; mereka adalah orang-orang jujur). Juga diberitakan kegiatan perdagangan Sunda dengan Malaka sampai ke kepulauan Maladewa (Maladiven). Jumlah merica bisa mencapai 1000 bahar (1 bahar = 3 pikul) setahun, bahkan hasil tammarin (asem) dikatakannya cukup untuk mengisi muatan 1000 kapal.

Sri Baduga Maharaja alias Prabu Siliwangi yang dalam Prasasti Tembaga Kebantenan disebut SUSUHUNAN di PAKUAN PAJAJARAN, memerintah selama 39 tahun (1482 - 1521). Ia disebut SECARA ANUMERTA SANG LUMAHING (SANG MOKTENG) RANCAMAYA karena ia dipusarakan di Rancamaya (di sinilah nilai khusus Rancamaya). [Rancamaya terletak kira-kira 7 Km di sebelah tenggara Kota Bogor. Rancamaya memiliki mata air yang sangat jernih. Tahun 1960-an di hulu Cirancamaya ini ada sebuah situs makam kuno dengan pelataran berjari-jari 7.5 m tertutup hamparan rumput halus dan dikelilingi rumpun bambu setengah lingkaran. Dekat makam itu terdapat Pohon Hampelas Badak setinggi kira-kira 25 m dan sebuah pohon beringin.

Dewasa ini seluruh situs sudah "dihancurkan" orang. Pelatarannya ditanami ubi kayu, pohon-pohonannya ditebang dan makam kuno itu diberi saung. Di dalamnya sudah bertambah sebuah kuburan baru, lalu makam kunonya diganti dengan bata pelesteran, ditambah bak kecil untuk peziarah dengan dinding yang dihiasi huruf Arab. Makam yang dikenal sebagai makam Embah Punjung ini mungkin sudah dipopulerkan orang sebagai MAKAM WALI. Kejadian ini sama seperti kuburan Embah Jepra pendiri Kampung Paledang yang terdapat di Kebun Raya yang "dijual" orang sebagai "makam Raja Galuh".



Find out the real face of Islam, read www. faithfreedom.org

searching
User
spacer line
 

2. Raja Surawisesa (1521 - 1535)

Pengganti Sri Baduga Maharaja adalah Surawisesa (puteranya dari Mayang Sunda dan juga cucu Prabu Susuktunggal). Ia dipuji oleh Carita Parahiyangan dengan sebutan "kasuran" (perwira), "kadiran" (perkasa) dan "kuwanen" (pemberani). Selama 14 tahun memerintah ia melakukan 15 kali pertempuran. Pujian penulis Cerita Parahiyangan memang berkaitan dengan hal ini.

Nagara Kretabhumi I/2 dan sumber Portugis mengisahkan bahwa Surawisesa pernah diutus ayahnya menghubungi Alfonso d'Albuquerque (Laksamana Bungker) di Malaka. Ia pergi ke Malaka dua kali (1512 dan 1521). Hasil kunjungan pertama adalah kunjungan penjajakan pihak Portugis pada tahun 1513 yang diikuti oleh Tome Pires, sedangkan hasil kunjungan yang kedua adalah kedatangan utusan Portugis yang dipimpin oleh Hendrik de Leme (ipar Alfonso) ke Ibukota Pakuan. Dalam kunjungan itu disepakati persetujuan antara Pajajaran dan Portugis mengenai perdagangan dan keamanan.

Dalam perjanjian itu disepakati bahwa Portugis akan mendirikan benteng di Banten dan Kalapa. Untuk itu tiap kapal Portugis yang datang akan diberi muatan lada yang harus ditukar dengan barang-barang keperluan yang diminta oleh pihak Sunda. Kemudian pada saat benteng mulai dibangun, pihak Sunda akan menyerahkan 1000 karung lada tiap tahun untuk ditukarkan dengan muatan sebanyak dua "costumodos" (kurang lebih 351 kuintal).

Perjanjian Pajajaran - Portugis sangat mencemaskan TRENGGANA (Sultan Demak III).
Selat Malaka, pintu masuk perairan Nusantara sebelah utara sudah dikuasai Portugis yang berkedudukan di Malaka dan Pasai. Bila Selat Sunda yang menjadi pintu masuk perairan Nusantara di selatan juga dikuasai Portugis, maka jalur perdagangan laut yang menjadi urat nadi kehidupan ekonomi Demak terancam putus.

Trenggana segera mengirim armadanya di bawah pimpinan FADILLAH KHAN yang menjadi Senapati Demak. [Fadillah Khan memperistri Ratu Pembayun, janda Pangeran Jayakelana. Kemudian ia pun menikah dengan Ratu Ayu, janda Sabrang Lor (Sultan Demak II). Dengan demikian, Fadillah menjadi menantu Raden Patah sekaligus menantu Susuhunan Jati Cirebon. Dari segi kekerabatan, Fadillah masih terhitung keponakan Susuhunan Jati karena buyutnya BARKAT ZAINAL ABIDIN adalah adik NURUL AMIN (kakek Susuhunan Jati dari pihak ayah). Selain itu Fadillah masih terhitung cucu SUNAN AMPEL (ALI RAKHMATULLAH) sebab buyutnya adalah kakak IBRAHIN ZAINAL AKBAR ayah Sunan Ampel. Sunan Ampel sendiri adalah mertua Raden Patah (Sultan Demak I).

Barros menyebut Fadillah dengan FALETEHAN. Ini barangkali lafal orang Portugis untuk Fadillah Khan.

Pasukan Fadillah (& Pangeran Hasanudin) merupakan gabungan pasukan Demak-Cirebon berjumlah 1967 orang.

Sasaran pertama adalah Banten, pintu masuk Selat Sunda. Kedatangan pasukan ini telah didahului dengan huru-hara di Banten yang ditimbulkan oleh Pangeran Hasanudin dan para pengikutnya. Kedatangan pasukan Fadillah menyebabkan pasukan Banten terdesak. Bupati Banten beserta keluarga dan pembesar keratonnya mengungsi ke ibukota Pakuan (di kerajaan PAJAJARAN).

Hasanudin kemudian diangkat oleh ayahnya (Susuhunan Jati), menjadi Bupati Banten (1526). Setahun kemudian, Fadillah bersama 1452 orang pasukannya menyerang dan merebut pelabuhan Kalapa. Bupati Kalapa bersama keluarga dan para menteri kerajaan yang bertugas di pelabuhan gugur. Pasukan bantuan dari Pakuan pun dapat dipukul mundur. (!! Mulai berani menyerang pasukan Pajajaran !!) Keunggulan pasukan Fadillah terletak pada penggunaan MERIAM yang justru tidak dimiliki oleh Laskar Pajajaran.

Bantuan Portugis datang terlambat karena Francisco de Sa yang ditugasi membangun benteng diangkat menjadi Gubernur Goa di India. Keberangkatan ke Sunda dipersiapkan dari Goa dengan 6 buah kapal. Galiun yang dinaiki De Sa dan berisi peralatan untuk membangun benteng terpaksa ditinggalkan karena armada ini diterpa badai di Teluk Benggala. De Sa tiba di Malaka tahun 1527. Ekspedsi ke Sunda bertolak dari Malaka.

Mula-mula menuju Banten, akan tetapi karena Banten sudah dikuasai Hasanudin, perjalanan dilanjutkan ke Pelabuhan Kalapa. Di Muara Cisadane, De Sa memancangkan padrao pada tanggal 30 Juni 1527 dan memberikan nama kepada Cisadane "Rio de Sa Jorge". Kemudian galiun De sa memisahkan diri. Hanya kapal brigantin (dipimpin Duarte Coelho) yang langsung ke Pelabuhan Kalapa. Coelho terlambat mengetahui perubahan situasi, kapalnya menepi terlalu dekat ke pantai dan menjadi mangsa sergapan pasukan Fadillah. Dengan kerusakan yang berat dan korban yang banyak, kapal Portugis ini berhasil meloloskan diri ke Pasai.

Tahun 1529 Portugis menyiapkan 8 buah kapal untuk melakukan serangan balasan, akan tetapi karena peristiwa 1527 yang menimpa pasukan Coelho demikian menakutkan, maka tujuan armada lalu di ubah menuju Pedu.

Setelah Sri Baduga wafat, Pajajaran dan kerajaan musuhnya, Cirebon, berada pada generasi yang sejajar. Yaitu : Surawisesa (putera & pengganti Sri Baduga)dari Pajajaran vs kakak lain ibu, Cakrabuana, dibantu oleh keponakannya, Syarif Hidayat, dari Cirebon.

Meskipun yang berkuasa di Cirebon Syarif Hidayat, tetapi dibelakangnya berdiri Pangeran Cakrabuana (Walasungsang atau bernama pula HAJI ABDULLAH IMAN). Cakrabuana adalah kakak seayah Prabu Surawisesa. Dengan demikian, keengganan Cirebon menjamah pelabuhan atau wilayah lain di Pajajaran menjadi hilang. Mulailah episode perang sipil berikutnya, dgn Islam di latar belakang, menunggu dgn sabar utk menundukkan rakyat Indonesia kpd Islam dibawah ujung pedang.

[Cirebon sebenarnya relatif lemah. Akan tetapi berkat dukungan Demak, kedudukannya menjadi mantap. Setelah kedudukan Demak goyah akibat kegagalan serbuannya ke Pasuruan dan Panarukan (bahkan Sultan Trenggana tebunuh), kemudian disusul dengan perang perebutan tahta, maka Cirebon pun turut menjadi goyah pula. Hal inilah yang menyebabkan kedudukan Cirebon terdesak dan bahkan terlampaui oleh Banten di kemudian hari]

Perang Cirebon - Pajajaran berlangsung 5 tahun lamanya. Yang satu tidak berani naik ke darat, yang satunya lagi tak berani turun ke laut. Cirebon dan Demak hanya berhasil menguasai kota-kota pelabuhan. Hanya di bagian timur pasukan Cirebon bergerak lebih jauh ke selatan.

Pertempuran dengan Galuh terjadi tahun 1528. Di sinipun terlihat peran Demak karena kemenangan Cirebon terjadi berkat bantuan PASUKAN MERIAM Demak tepat pada saat pasukan Cirebon terdesak mundur. Laskar Galuh tidak berdaya menghadapi "panah besi yang besar yang menyemburkan kukus ireng dan bersuara seperti guntur serta memuntahkan logam panas". Tombak dan anak panah mereka lumpuh karena meriam. Maka jatuhlah Galuh. Dua tahun kemudian jatuh pula Kerajaan Talaga, benteng terakhir Kerajaan Galuh.

Sumedang masuk ke dalam lingkaran pengaruh Cirebon dengan dinobatkannya PANGERAN SANTRI menjadi Bupati Sumedang pada tanggal 21 Oktober 1530. [Pangeran Santri adalah cucu PANGERAN PANJUNAN, kakak ipar Syarif Hidayat. Buyut Pangeran Santri adalah SYEKH DATUK KAHFI pendiri pesantren pertama di Cirebon. Ia menjadi bupati karena pernikahannya dengan SATYASIH, Pucuk Umum Sumedang. Secara tidak resmi Sumedang menjadi daerah Cirebon]

Dengan kedudukan yang mantap di timur Citarum, Cirebon merasa kedudukannya mapan. Selain itu, karena gerakan ke Pakuan selalu dapat dibendung oleh pasukan Surawisesa, maka kedua pihak mengambil jalan terbaik dengan berdamai dan mengakui kedudukan masing-masing. Tahun 1531 tercapai perdamaian antara Surawisesa dan Syarif Hidayat. Masing-masing pihak berdiri sebagai negara merdeka.

[Di pihak Cirebon, ikut menandatangani naskah perjanjian, Pangeran PASAREAN (Putera Mahkota Cirebon), Fadillah Khan dan Hasanudin (Bupati banten)]

Perjanjian damai dengan Cirebon memberikan peluang kepada Surawisesa untuk mengurus dalam negerinya. Setelah berhasil memadamkan beberapa pemberontakan, ia berkesempatan menerawang situasi dirinya dan kerajaannya. Warisan dari ayahnya hanya tinggal setengahnya, itupun tanpa pelabuhan pantai utara yang pernah memperkaya Pajajaran dengan lautnya. Dengan dukungan 1000 orang pasukan belamati yang setia kepadanyalah, ia masih mampu mempertahankan daerah inti kerajaannya.

Dalam suasana seperti itulah ia mengenang kebesaran ayahandanya. Perjanjian damai dengan Cirebon memberi kesempatan kepadanya untuk menunjukkan rasa hormat terhadap mendiang ayahnya. Mungkin juga sekaligus menunjukkan penyesalannya karena ia tidak mampu mempertahankan keutuhan wilayah Pakuan Pajajaran yang diamanatkan kepadanya. Dalam tahun 1533, tepat 12 tahun setelah ayahnya wafat, ia membuat SAKAKALA (tanda peringatan buat ayahnya).

Ditampilkannya di situ karya-karya besar yang telah dilakukan oleh Susuhunan Pajajaran. ITULAH PRASASTI BATUTULIS yang diletakkannya di KABUYUTAN tempat tanda kekuasaan Sri Baduga yang berupa LINGGA BATU ditanamkan. Penempatannya sedemikian rupa sehingga kedudukan antara anak dengan ayah amat mudah terlihat. Si anak ingin agar apa yang dipujikan tentang ayahnya dengan mudah dapat diketahui (dibaca) orang. Ia sendiri tidak berani berdiri sejajar dengan si ayah.

Demikianlah, BATUTULIS itu diletakkan agak ke belakang di samping kiri LINGGA BATU. Surawisesa tidak menampilkan namanya dalam prasasti. Ia hanya meletakkan dua buah batu di depan prasasti itu. Satu berisi ASTATALA ukiran jejak tangan, yang lainnya berisi PADATALA ukiran jejak kaki. [Mungkin pemasangan batutulis itu bertepatan dengan upacara SRADA yaitu "penyempurnaan sukma" yang dilakukan setelah 12 tahun seorang raja wafat. Dengan upacara itu, sukma orang yang meninggal dianggap telah lepas hubungannya dengan dunia materi].

Surawisesa memerintah selama 14 tahun lamanya. Dua tahun setelah ia membuat prasasti sebagai SAKAKALA untuk ayahnya, ia wafat dan dipusarakan di PADAREN. Diantara raja-raja jaman Pajajaran, hanya dia dan ayahnya yang menjadi bahan kisah tradisional, baik babad maupun pantun. [Babad Pajajaran atau Babad Pakuan sebenarnya mengisahkan "petualangan" Surawisesa (Guru Gantangan) dengan gaya cerita Panji].//


Find out the real face of Islam, read www. faithfreedom.org

searching
User
spacer line
 

So Om Sidia,

you are only half right when saying this:

"Perselisihan antara Pajajaran dan Demak dimulai ketika Pajajaran mencoba mencari pertolongan dai Portugis di Malaka."

The conflict started when Demak made a secret coalition with Cirebon, while in FACT it was a treason from a son and grandson to a king father. The reason is the religion.

For Demak, as written, we can read its history in Serat Darmagandul.

So why Indonesian history at school didn't write more about this? Why they only mentioned that Padjajaran asked the help of Portuguese, and never come deeper into the real conflict? I never remember reading this more depth narration when I was at school.


Find out the real face of Islam, read www. faithfreedom.org

sidia
User
User icon of sidia
spacer line
 


On 03-02-2008 07:22 searching wrote:
So why Indonesian history at school didnt write more about this? Why they only mentioned that Padjajaran asked the help of Portuguese, and never come deeper into the real conflict? I never remember reading this more depth narration when I was at school.


History is always written by the winners.
Our history was written by the dutch , a heritage from the past..
They dont have written or knew everything abt the indonesian history .
I have read some of Indonesian History books written by the Dutch , Encyclopaedy of Neth Indie etc. Its amazing to read the books and their knowledge till the fifties.
We get the history books or lesson from the dutch , and we have not access to the knowledege .(K.I.T Amsterdam , KITLV-Leiden, Royal / LibrarylArchive The Hague). Period 1945-1949 we are enemies.
1945 - 1968 relation between Nld and Indonesia was not so good.
That's why we have not enough knowledge of our history.
As we know the indonesian are now written their history .
Sejarah Indonesia modern.

I have met some guys from Indonesia at Koninklijke Institut Tropen , who are studying indonesian history for their Ph.D.
Thats abt The Sejarah Nasional.
People in the daerah/region (some of them-sesepuh-turunan) )have also a little knowledge abt their own (region) history .Sejarah Daerah.
Like Caritya Parahyangan , Babad Banten , Babad Jawi , Babad Cirebon , Babad Bali etc.
Everyone can read it , or asked it to Uncle Google.


Bisa dicek mas . http://omsid.multiply.com/

searching
User
spacer line
 

Sidia,

"History is always written by the winners."

I cannot express this concept better than this sentence you write. You are really wise in stating that.
That's why it's better to make comparison in the history than just accept from only one side story.

I heard my friend mention a book "Babad Tanah Jawa" which has been published in Indonesia.

"That's why we have not enough knowledge of our history.
As we know the indonesian are now written their history .
Sejarah Indonesia modern."

Agree with you on this. That's why we need to encourage everyone including ourselves to really see what happened in the past, learn from it, and accepted all without lies anymore. We need to be honest in accepting dark side of our history too.


Find out the real face of Islam, read www. faithfreedom.org

sidia
User
User icon of sidia
spacer line
 

As I had mentioned(wah sorry for my tarzan english) , we have get our history(book-lessons) from the Dutch.
Esp in the beginning -After 1950-1960.
There are 2 reasons why we didnt knew much because 1. lack of knowledge of the dutch & 2. they wrote only 1 side of the history (rekayasa).
Some of Ned. site's even travel sites still mentioning (2005/6)some parts from the book of Prof Dr .W.F Stuterheim ( CultureHistory of Indonesia ).
Written in 1932 , the last(?) edition was in 1954 (3rd edition).
Nowadays they have younger historian with better access (internet-study Ph.d etc), the same as the indonesian.

Abt Indonesian History .(Sejarah Nasional)
Almost everyone have learn abt the Javanese kingdoms.
If we read articles outside Indonesia( NL-European sites) you can read mostly about Java , Javanese and their culture.
Some of them even think that Sundanese are also Javannese and thought that Javanese Culture was older than the Sundanese.

Its not true , because the Sundanese culture was older , since Saka year 1.
Do you have heard or read abt Salaka Nagara ?
Saka Sunda .?
Who are Raden Wiyaja (founder of Majapahit) and Sanyaja (Sanyaja dynasty) the founder of Old Mataram , or the queen of the founder of Srivijaya. ?
Abt Dyah Pitaloka , Perang Bubat ?
Esti Larangan Ti Kaluaran.?(I heard it more than 50 yrs ago , generations told in our family).
What is the difference between Kabuyutan and Kejawen. ?
Make also a link to Islam-Siliwangi-Baduy -Abangan , Islam "versus" Hindu (yr story Kean Santang vs Prabu Siliwangi. )

Silahkan Emoticon: Smile


Bisa dicek mas . http://omsid.multiply.com/

searching
User
spacer line
 

"As I had mentioned(wah sorry for my tarzan english) , we have get our history(book-lessons) from the Dutch.
Esp in the beginning -After 1950-1960.
There are 2 reasons why we didnt knew much because 1. lack of knowledge of the dutch & 2. they wrote only 1 side of the history (rekayasa).
Some of Ned. site's even travel sites still mentioning (2005/6)some parts from the book of Prof Dr .W.F Stuterheim ( CultureHistory of Indonesia ).
Written in 1932 , the last(?) edition was in 1954 (3rd edition).
Nowadays they have younger historian with better access (internet-study Ph.d etc), the same as the indonesian.
"

Well, I hope the truth prevails and we can read history with minimum and less subjectivity.

"Abt Indonesian History .(Sejarah Nasional)
Almost everyone have learn abt the Javanese kingdoms.
If we read articles outside Indonesia( NL-European sites) you can read mostly about Java , Javanese and their culture.
Some of them even think that Sundanese are also Javannese and thought that Javanese Culture was older than the Sundanese."

Realy, you can update me on that.

"Its not true , because the Sundanese culture was older , since Saka year 1.
Do you have heard or read abt Salaka Nagara ?
Saka Sunda .?
Who are Raden Wiyaja (founder of Majapahit) and Sanyaja (Sanyaja dynasty) the founder of Old Mataram , or the queen of the founder of Srivijaya. ?
Abt Dyah Pitaloka , Perang Bubat ?
Esti Larangan Ti Kaluaran.?(I heard it more than 50 yrs ago , generations told in our family).
What is the difference between Kabuyutan and Kejawen. ?
Make also a link to Islam-Siliwangi-Baduy -Abangan , Islam "versus" Hindu (yr story Kean Santang vs Prabu Siliwangi. )

Silahkan
"

You can update me on this too. Always nice to hear from the people who are really in the region.

Of course I know that at least Sunda and Java comes from the same root, because they have the same hanacaraka (honocoroko).
Of course I know Raden Wijaya and I've read on Sanjaya (and Syailendra) Dynasties.
I also know Perang Bubat, the fake marriage proposal.
The other ones, no I haven't heard on them. Perhaps you can enlighten me on this.
I am really starting to enjoy the discussion with you. We can go deeper into the sundanese history.


Find out the real face of Islam, read www. faithfreedom.org

AnisJ
User
User icon of AnisJ
spacer line
 

Searching ,

  • I think I dig up my old 'topic-story' ..... Emoticon: Shiny Emoticon: Shiny Emoticon: Shiny Emoticon: Party! Emoticon: Party!

  • forum.indahnesia.com/topic/138(...)me_for_a_country.php


    Bapa Sid jangan ketawa ...... !!!







  • 'Ahu kura ahia, mansia nia'

    sidia
    User
    User icon of sidia
    spacer line
     

    Om Anis ,

    Maybe can the younger generation learn from yr wisdom . Emoticon: Yes!

    Silahkan Om Emoticon: Shiny


    Bisa dicek mas . http://omsid.multiply.com/


    You have to be logged in to post a message. You can login by clicking here.
    If you do not have an account yet, you can register yourself here.



    80,925,131 topic views - 238,338 posts - 13,717 topics - 29,628 members - last post @ 07-04-2020 05:38 CET

    Created by indahnesia.com · feedback & contact · © 2000-2020
    Other websites by indahnesia.com: ticketindonesia.info · kamus-online.com · indonesiepagina.nl · suvono.nl

    131,976,583 pageviews Discover Indonesia Online at indahnesia.com